WFH, CPNS Jatim Ini Pilih Kamar dan Meja Pribadi jadi "Kantor" di Rumah

Senin, 11 Mei 2026 | 17:05 WIB
Potret Salsabila Devina Atmaranti saat bekerja di Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Provinsi Jawa Timur pada posisi Penata Kelola Sistem dan Teknologi Informasi pada Senin (11/5/2926). (KOMPAS.com/Adinda Trisaeni Nur Sabrina) Potret Salsabila Devina Atmaranti saat bekerja di Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Provinsi Jawa Timur pada posisi Penata Kelola Sistem dan Teknologi Informasi pada Senin (11/5/2926).

SURABAYA, KOMPAS.com - Bagi Salsabila Devina Atmaranti (28), bekerja dari rumah atau work from home (WFH) bukanlah pekerjaan yang sederhana.

CPNS di Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pemprov Jawa Timur ini bercerita, sebelum bekerja di lingkungan pemerintahan, ia lebih dulu terbiasa dengan ritme kerja digital. 

Ia pernah bekerja di salah satu lembaga pelatihan di perguruan tinggi negeri di Surabaya selama hampir lima tahun, mulai dari staf hingga posisi manajerial.

Bekerja dari jarak jauh atau remote pun bukan hal baru. Ketika pandemi Covid-19 melanda, ia pernah WFH penuh. 

“Saya masih ingat pengalaman pertama menjalani WFH saat masa lockdown Covid-19. Waktu itu situasinya cukup mendadak dan semua orang masih sama-sama beradaptasi dengan perubahan sistem kerja,” ujar Salsa kepada Kompas.com Senin (11/5/2026).

Baca juga: WFH di Sumenep Akan Dievaluasi, Pemkab Soroti Kedisiplinan ASN

Yang paling diingat, bukan hanya sistem kerja yang berubah. Fungsi rumah sebagai tempat hunian pun berubah jadi ruang kerja. 

Sebagai Penata Kelola Sistem dan Teknologi Informasi, ia sempat berpikir bila bekerja dari rumah akan membuat pekerjaannya berjalan lebih mudah jika dilakukan dengan laptop dan koneksi internet yang mendukung.

"Tetapi realitanya ternyata tetap ada tantangan, terutama dalam koordinasi tim, kestabilan sistem, dan komunikasi yang kadang lebih efektif jika dilakukan secara langsung di kantor,” katanya.

Salsa memilih kamar atau meja kerja pribadinya sebagai area "kantor" di rumah. Kedua tempat ini diyakini menjadi lokasi paling strategis untuk membuatnya tetap fokus, sekaligus memudahkan dirinya menata perangkat kerja seperti laptop, headset, pengisi daya, hingga koneksi internet.

Meski dengan berbagai peralatan pendukung yang ada di rumah, ia menganggap, fasilitas kerja di kantor sulit terganti, jika pekerjaan itu harus dipindahkan ke rumah, meski hanya satu hari dalam sepekan yaitu pada Rabu.

Baca juga: WFH ASN Tiap Jumat Ubah Ritme Ojol Jakarta, Order Bergeser dari Kantor ke Coworking Space

“Saat di kantor, komunikasi dengan tim terasa lebih cepat karena bisa langsung berdiskusi. Sedangkan saat WFH semuanya bergantung pada chatmeeting online, dan koneksi internet,” kata dia.

Di lingkungan Pemerintah Provinsi Jawa Timur, kata dia, sistem WFH juga tetap diawasi cukup ketat. Presensi dilakukan melalui aplikasi dengan GPS aktif, mulai dari absensi pagi, siang, hingga sore.

Tak hanya itu, pegawai juga wajib mengikuti dialog kinerja melalui Zoom dengan kamera menyala.

“Jadi meskipun bekerja dari rumah, ritme kerja dan monitoring kinerja tetap berjalan cukup disiplin dan terstruktur,” ujarnya.

Sebagai pegawai yang pekerjaannya sangat bergantung pada sistem digital, kendala teknis menjadi tantangan yang paling sering muncul.

Gangguan kecil seperti internet yang mendadak tidak stabil bisa langsung mengganggu ritme kerja, terutama ketika sedang rapat penting atau menangani kendala sistem.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku
Komentar
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.