Ilustrasi ASN.Di sinilah dimensi fiskal perlu ditempatkan secara lebih jernih. Berdasarkan struktur penggajian terkini, mayoritas CPNS akan masuk pada golongan III/a dengan pendapatan rata-rata sekitar Rp 5–7 juta per bulan.
Dengan asumsi moderat Rp 6 juta, satu ASN membutuhkan sekitar Rp 72 juta per tahun.
Artinya, rekrutmen 160.000 CPNS berpotensi menambah beban anggaran sekitar Rp 11,5 triliun per tahun--bahkan dapat mendekati Rp 15 triliun jika memperhitungkan berbagai komponen tambahan. Namun, beban tersebut sejatinya baru lapisan awal.
Belanja pegawai bersifat akumulatif dan cenderung sulit dikoreksi. Dengan asumsi kenaikan gaji moderat sekitar 3 persen per tahun, dalam 10 tahun satu ASN dapat menghabiskan lebih dari Rp 800 juta anggaran negara.
Secara agregat, satu gelombang rekrutmen dapat menyerap sekitar Rp130 triliun dalam satu dekade.
Dalam horizon 20 tahun, tekanannya semakin terasa. Total biaya per ASN dapat mendekati Rp 2 miliar, sehingga beban kumulatif satu angkatan CPNS berpotensi melampaui Rp 300 triliun. Angka ini belum mencakup kewajiban setelah masa kerja berakhir.
Persoalan menjadi lebih kompleks ketika memasuki fase pensiun. Dengan skema yang masih bertumpu pada pembiayaan APBN, negara tetap menanggung pembayaran manfaat pensiun secara berkelanjutan.
Jika rata-rata manfaat pensiun berada di kisaran Rp 3–4 juta per bulan, maka satu angkatan ASN dapat menambah beban sekitar Rp 6–8 triliun per tahun saat memasuki masa pensiun. Dalam jangka panjang, totalnya dapat melampaui Rp 100 triliun.
Namun, pembahasan fiskal tidak lengkap tanpa melihat dari mana sumber pembiayaan itu berasal.
Struktur APBN Indonesia hingga kini masih ditopang oleh tiga pilar utama: penerimaan perpajakan, penerimaan negara bukan pajak (PNBP), dan pembiayaan melalui utang.